Butuy I am in Love

When some friends asked me where my long weekend is going to, i was only sitting here, on my office, having some throwback photos at Butuy Village, Mentawai.

First stop before heading to Butuy, our boat docked at Sikabaluan, North Siberut, after twelve hours journey in the middle of the ocean. And this is the Synagogue at Sikabaluan.

After having many hours on ferry, we took small boat to reach Butuy. It was only six hours sitting while passing through the river. :p

Tattoo art of Mentawai is the oldest tattoo art in the world. Here was Atung got tattoo by Aman Lau Lau, a shaman, a leader at uma where we lived several nights.

And this is Uma, an opened house; without doors and windows; without beds and mattresses, but we stayed happily instead. The place where we as human met the dogs and cats, and we breathed the same air.

I hope someday i could come back to Butuy. Here we are having an epic picture in front of uma, taken by kak Prue.

Imigrasi, oh, Imigrasi

Seorang pria berkumis—pastinya bukan Mas Adam Suseno, sepenglihatan saya berkebangsaan Malaysia karena bahasa Melayu-nya cukup kental, irit senyum, bertanya berkali-kali kepada saya di konter imigrasi. Berikut daftar pertanyaannya: Ada perlu apa ke Malaysia? Berapa hari? Mana tiket pesawat pulangnya? Datang bersama Bapak itu—Bapak yang dimaksud adalah seorang bapak-bapak yang mengantri persis di depan saya sebelumnya, cukup tua sekitar berumur lebih lima puluh tahun, berambut putih, bermata sipit, bercelana pendek, dan sepertinya juga datang sendiri ke Malaysia. Hingga sesaat setelah selesai mencap paspor saya dan ketika saya ingin buru-buru kabur sebelum emosi, dia masih sempat-sempatnya bertanya lagi: apa mereka teman anda—teman anda yang dia maksud adalah rombongan tim hore yang cukup ramai, sepertinya orang-orang Indonesia yang mau shopping ke Kuala Lumpur. NO, jawab saya sambil melihatnya tak acuh lalu melangkahkan kaki ke pintu keluar. Kezel.

Mungkin saya masih bisa mentolerir perlakuan petugas imigrasi Malaysia. Tetapi, tidak untuk perlakuan petugas imigrasi di rumah saya sendiri. Setibanya di Padang, petugas yang berada di dalam boks untuk mencap paspor sih tidak masalah, bahkan tidak bertanya satu pertanyaan pun, begitu juga ibu petugas yang mengumpulkan formulir imigrasi. Nah, kekesalan saya muncul ketika pemeriksaan bagasi, belum sempat saya menaruh ransel saya untuk di x-ray bagasi, pemuda berambut cepak, berbadan tegap, berkulit kuning langsat—sialnya saya lupa melihat namanya di baju seragamnya itu—meminta paspor saya, membolak-baliknya, kemudian memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang menurut saya terlalu lebay, seperti: “ini mau ke mana?” Ketika saya jawab “pulang,” dia nanya balik, “pulang ke mana?” “Rumah,” jawab saya singkat, eh nanya lagi “rumahnya di mana?” “Sitebanya dekat mana?” Tidak, saya pastikan dia tidak naksir saya. Berlanjut dengan bertanya “Ngapain di Malaysia?” “Sendirian aja?” “it’s not your fucking business,” tentu saya menjawabnya di dalam hati. Seperti bisa memainkan emosi saya dengan masih “menahan” paspor saya, dia lanjut bilang “itu apa yang di kantong keluarkan semua,” saya pun melempar dengan agak kesal sisa ringgit yang terselip di kantong celana ke dalam baki. Setelah saya pindah untuk mengambil tas, tetapi baki yang berisi hp, ringgit, dan permen masih tertahan di lorong x-ray, beberapa menit kemudian baru keluar dan di saat itu baru petugasnya mengembalikan paspor saya. Kezell!

Lain halnya di bandara Changi, balsem dan obat batuk (berbentuk permen) yang saya beli di bandara, diperiksa lebih dari sepuluh menit, ditimang-timang, dibaca label dan segala tulisan yang tertera di kemasan, ditanya dibeli di mana, dan untuk apa. Mungkin mereka parno saya bawa napza.

Pengalaman mengantri imigrasi yang masih negara tetangga lainnya tergolong biasa-biasa saja sebelumnya. Di kedatangan pertama saya ke Malaysia pun baik-baik saja. Kenapa kemaren jadi begitu lain, apa karena di paspor baru itu hanya berisi satu halaman berstempel Vietnam? Atau baru-baru ini ada kecenderungan konflik yang memanas (lagi) antara Malaysia dan Indonesia? Hingga saat malam ketika saya sampai di peraduan, saya ingin sekali menemukan sesuatu di internet untuk mencari tahu—harap maklum saya tidak ada televisi di rumah—dan saya tidak menemukan apa-apa. Bahkan sekali lagi saya mencoba browsing di sela-sela membuat draf postingan ini. Nihil. Atau apa karena muka saya terlalu ke-TKW-TKW-an? Sampai kapan ya hubungan antara Malaysia dan Indonesia ini seperti api dalam sekam? Ah, mungkin karena saya lagi apes sahaja.

Impulsively to Penang

“Traveling alone is a religious experience,” unknown said. Yes, it does. It happened to me yesterday, in Penang and Kuala Lumpur.

This is not my very first time having trip by myself eventually. As i am a very impulsive person, i need no reason for stepping round-such as broken heart, fixing broken heart, or celebrate anything, i leave because i need to leave-and also as a compliment, my backpack is really light to pack, by the way. 🙂

Having a cup of coffee and suddenly getting nice and informative chit-chat with the waitress on my table (i guess she is also the owner) before heading to my booked hotel; too much question from immigration officer; getting my ringgit was running out meanwhile i was on the cashier’s face; and deriving the mosques with less area for women in Penang until i have to use my bed sheets for prayings, are simply my stories to remember.

Well, good night and happy weekend with your loved ones.

One thing, nothing could faint you but yourself.

Ipoh, 21 Januari 2017

Hari Ini dan Kenangan Sikabaluan

DSC00246.JPG

Hari ini melambungkan saya ke perjalanan tahun lalu ke Mentawai. Setelah hampir sepuluh jam berada di antara gelombang yang sedikit menyeramkan dan membuat mual, kapal berlabuh sejenak sembari menurunkan penumbang di Desa Muara Sikabaluan, Siberut Utara.

Di siang terik itu, kami menyusuri jalan desa dengan menggunakan ojek, menyambangi setiap lekuk pemukiman sambil mengobrol santai di atas motor. Rumah-rumah sederhana yang mayoritas terbuat dari kayu, terkadang diselingi dengan hamparan ladang, kedai, dan rumah ibadah. Hingga di sebuah penghujung jalan, kami disambut oleh pemandangan pantai yang indah banget, bersih, dan pasirnya juga halus. Setelah foto-foto dan menikmati suasana, kami harus buru-buru balik karena kapal hanya berlabuh sesaat.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Siberut Selatan, titik akhir dengan kapal besar, sebelum tujuan utama kami, Desa Butuy. Enam jam duduk manis bersila, tanpa senderan, tanpa gerak yang berarti kami menyusur sungai dengan perasaan membuncah ingin bercengkerama dengan Sikerei dan ibu-ibu di dalam Uma. Perasaan yang saya rindukan hari ini setelah seseorang menyebut kata Mentawai kepada saya.

Lalu, apa gerangan yang orang itu maksudkan? Asu dahlah.

grateful

DSC_0180

Yesterday was great. I got instagram account named @agushong who quit his job to travel roads less travelled-as he declare himself in bio. I followed him then. From his feed i read something good, in one of his photo he said, “a meaningful life is not being rich, being popular, being highly educated or being perfect. It’s about being real, being humble, being able to share ourselves and touch the lives of others. It is only then that we could have a full, happy, and contented life”. I don’t care from whom he inspired about that, but one thing, i am blessed to be “met” with free and beautiful soul person.

Today is the other great day. I “met” @fransiscangela. I may say this blog was born because i am inspired with her blog.

This year i am getting 30. I will freeze at 30 if people ask my age. Me in 30 is so so much blessed. In this age, my feet have walked in five big island in Indonesia. YEIY!

This beautiful girl from Sorong has big smile that sooo i love (sorry, i really forgot her name).